Makassar – MOINEWS, – LISAN (Lembaga Pengkajian dan Penelitian Nusantara) bekerjasama dengan BPJS Kesehatan mengadakan Focus Group Discussion (FGD) sebagai tahap akhir dari rangkaian penelitian yang dilakukan berjudul “Evaluasi Program REHAB dan Pengembangan Kolaborasi Kelembagaan Desa (Gotong Sehat) Dalam Mendorong Kepesertaan dan Kepatuhan Pembayaran Iuran BPJS Kesehatan”, Rabu 18 February 2026.
Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti LISAN yang terdiri dari Ahmad Yani, Onna Bustang, dan Rezky Amalia, dengan tujuan untuk meminta masukan dan penguatan terhadap hasil penelitian yang telah dilakukan. Kegiatan ini juga diikuti oleh Deputi Direksi Bidang Riset, Inovasi dan Pengembangan BPJS Kesehatan secara daring.
FGD menghadirkan narasumber dari akademisi dan peneliti BRIN, Tuti Bafriati serta koordinator Green PNPM Operation Wallacea Trust, Ziaul Haq Nawawi. Peneliti memaparkan inovasi Gotong Sehat yakni pembayaran iuran BPJS Kesehatan di Koperasi Merah Putih melalui dua skema pembayaran yaitu tunai dan konversi hasil tani/laut dengan empat inovasi jenis layanan yaitu : layanan pembayaran iuran, layanan pembayaran cicilan iuran, layanan pembayaran cicilan tunggakan, dan layanan auto-debit simpan pinjam anggota koperasi.
Inovasi ini sebagai terobosan untuk menjawab masalah tunggakan dan kepatuhan pembayaran iuran BPJS Kesehatan bagi masyarakat pedesaan.
Menanggapi paparan tersebut, Ziaul Haq menuturkan bahwa penting untuk melihat akar permasalahan kenapa masyarakat menunggak apakah mereka tidak mampu atau memang menganggap BPJS Kesehatan ini belum prioritas atau memberikan dampak.
“Bagi saya kerjasama dengan Koperasi Merah Putih tidak menjadi masalah dalam inovasi ini, tetapi perlu dipikirkan oleh tim peneliti bahwa pendekatan gotong sehat ini tidak boleh sama rata. Harus memperhatikan sosial-budaya dan potensi di masing-masing desa. Terkait model pembayaran konversi hasil tani dan laut juga perlu dipikirkan bagaimana sistem keberlanjutannya. Perlu diberikan limitasi komoditi yang bisa dikonversi dan daya tahannya. Karena jika tidak ini akan menimbulkan masalah baru. Misal masyarakat bawa ikan itu tidak tahan lama disimpan” jelas Ziaul Haq.
“Model gotong sehat yang diinisiasi peneliti sebisa mungkin tidak menambah aplikasi baru. Misal input data cukup sinkronkan dengan data di pemerintah desa. Sehingga ini menjadi program yang tidak berdiri sendiri. Selain itu untuk menerapkan suatu kebijakan harus sesuai dengan kondisi lokal agar efektif. Peneliti juga harus bisa mencegah potensi human error dari setiap alur proses yang sudah dibuat. BPJS Kesehatan juga perlu membuat social campaign agar masyarakat tahu dampak mereka membayar iuran BPJS” Tambah Prof. Dr. Tuti Bafriati.
Peserta FGD juga memberikan masukan, antara lain: Layanan pembayaran iuran di Koperasi Merah Putih sebaiknya ketika sudah mencicil status BPJS aktif dan bisa digunakan. Terkait perbedaan pelayanan dari BPJS bantuan pemerintah dan BPJS mandiri perlu diperjelas. Jika ada peserta BPJS yang aktif membayarkan BPJS tetapi mereka meninggal dunia, sebaiknya ada uang duka dari BPJS yang rutin dibayarkan. Serta perlu ada kampanye sosial yang masif tentang cerita sukses pengguna BPJS agar membangun kepekaan dan kepercayaan masyarakat dengan BPJS Kesehatan. Cerita-cerita menyentuh yang dibagikan lewat sosial media.
FGD ini diharapkan dapat memberikan masukan dan rekomendasi untuk meningkatkan program BPJS Kesehatan dan mengembangkan Gotong Sehat. (**)
