Di Balik Gemerlap Hilirisasi Nikel, Peneliti Unhas Ungkap Paradoks Keadilan Sosial di Forum Nasional APSSI

moinews.my.id — Makassar, Saat kebijakan hilirisasi nikel terus digembar-gemborkan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia, sebuah pertanyaan kritis muncul: siapa yang sebenarnya menikmati hasilnya? Pertanyaan ini dijawab oleh para peneliti Thematic Research Group (TRG) Concern Universitas Hasanuddin (Unhas) dalam Konferensi Nasional Sosiologi XII dan Kongres APSSI V di Bali, 24–26 Juni 2026.

Melalui empat wakil peneliti, Sawedi Muhammad, Suryanto Arifin, Hariashari Rahim, dan Andi Nurlela. TRG Concern Unhas membawa suara dari lapangan ke panggung nasional. Mereka mempresentasikan realitas sosial di balik Proyek Strategis Nasional (PSN) sektor tambang, di mana keadilan sosial sering kali tertinggal jauh dari target ekonomi.

Ketika Profit Mengalahkan People and Planet” menjadi salah satu diskusi paling hangat. Penelitian ini membongkar paradoks hilirisasi: meski indikator ekonomi nasional membaik, distribusi manfaatnya timpang. Daerah penghasil nikel, masyarakat adat, dan ekosistem lokal justru menanggung beban terbesar, sementara prinsip keberlanjutan ekologis kerap dikorbankan demi kecepatan produksi.

Tidak hanya menyoroti masalah, penelitian TRG Concern Unhas juga mengangkat agensi masyarakat. Studi kasus di Malili, misalnya, menunjukkan bagaimana warga lokal tidak diam saja. Mereka memanfaatkan identitas lokal, kearifan tradisional, dan kelembagaan desa sebagai strategi negosiasi dan mediasi dalam menghadapi tekanan industri.

Di sisi lain, riset di Luwu Timur menyoroti sisi gelap pembangunan yang jarang terlihat: kerentanan berbasis gender. Perempuan, anak, dan penyandang disabilitas di kawasan industri nikel terbukti menghadapi hambatan struktural dalam mengakses pekerjaan, pendidikan, dan layanan dasar. Tanpa kebijakan yang inklusif, industrialisasi berisiko memperdalam jurang ketimpangan sosial.

Mengusung tema “Proyek Strategis Nasional (PSN): Menakar Konsekuensi Pembangunan dan Arah Kepentingan Nasional”, konferensi APSSI tahun ini menjadi wadah konsolidasi para sosiolog untuk merumuskan arah pembangunan yang lebih manusiawi.

Bagi TRG Concern Unhas, kehadiran di forum ini bukan sekadar kewajiban akademis, melainkan upaya strategis untuk menjembatani riset dengan kebijakan. Harapannya jelas: temuan-temuan kritis dari lapangan harus menjadi bahan pertimbangan utama dalam merancang masa depan industri nikel Indonesia yang tidak hanya kaya secara ekonomi, tetapi juga adil secara sosial. (Timred)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *